Kamis, 05 Januari 2017

Rumah Dirga



Panggil saja Dirga. Aku lebih suka memanggilnya demikian daripada dengan nama aslinya yang terdengar seperti jamur beracun itu.

Tentu saja Dirga bukan nama aslinya. Dirga, potongan dari Dirgantara yang ia semat-sematkan sendiri sebagai nama rimba yang setiap pencinta alam punya. Dahiku berkerut cukup keriting ketika ia memilih nama ini. Terlalu bagus. Nama rimba harus sejelek kutu kupret kalau bisa.
Dirga punya senyum kecut yang kerap mekar di bibirnya yang enggan bercumbu dengan rokok. Lalu kuberanikan bertanya mengapa dia begitu. Apakah karena ketidakpulangannya berminggu-minggu atau karena hidung runcingnya yang selalu peka wangi soto belum mencium aroma sakral itu.
Bibirnya melengkung tepat pada kata ‘pulang’.

Pulang? Hmmm... itu hanyalah akal-akalan anak rantau sok tegar yang sejatinya adalah anak yang jika di rumah bisa segitu manjanya seperti kucing kekenyangan, katanya.
Pulang? Hanyalah sesuatu dibalik implisitnya ingin makan gratis dan jalan-jalan anti dompet tipis.
Pulang... rindu ibu, katanya. Padahal ia hanya jago menarasikan rindu tanpa melakukan apa yang orang lakukan jika merindu. Ia hanya diam ketika ibunya sedang menyapu atau mencuci.. eh bilangnya rindu.
Pulang... ke rumah. Rumah yang berisikan orang-orang yang tidak bercengkrama hangat ketika berada di bawah satu atap yang sama, namun nampak begitu ceria ya ketika foto hendak diunggah ke sosial media.
Haha.
Lalu, apa arti rumah menurut dia? Pikirku.
Ah aku kangen gunung, Mer. Kamu gak mau naik? Yok lah bareng kalau mau. Siapa yang gak doyan ngabisin Agustus di Semeru? Ia melirikku dengan pandangan yang luar biasa menggoda untuk menjitaknya berkali-kali. Ia lanjut tersenyum dan menyala-matikan senternya yang luar biasa membuat kucing mengeong cukup keras untuk membangunkan satu kampung.
Aku biasanya terpukat dengan kata ‘Semeru’. Bagi Dirga wangi soto, bagiku Oro-Oro Ombo. Tapi kali ini tidak. Aku malah berakhir dengan menikmati pemandangan sandal jepitku yang bertuliskan Ojo Dimaling di bagian kiri dan Lek Nyelang Ngomong di bagian kanan. Sejatinya aku melamun. Aku melamuni apa arti semua perkataan Dirga barusan. Aku tak tahu, bahkan, dia serius atau bercanda. Aku akan memutuskan dia bercanda jika aku gagal untuk tiba-tiba mengingat banyak detil yang Dirga tak pernah ucap, namun kulihat dan dengar.
Aku mengingat bagaimana Dirga hampir tidak pernah ditelepon ibunya. Ia mencocokkan ponselnya dengan telinganya dan berbicara dengan ibunya itu pun dia dahulu yang menelepon. Jika tidak, tidak ada percakapan itu. Ibu dan ayah sibuk, ujarnya.
Lalu aku membandingkan teman satu kosku yang ditelepon mamaknya lima kali sehari sudah seperti waktu salat wajib.
Aku mengingat bagaimana yahudddnya ikan bakar buatan Dirga. Padahal bumbu-bumbu yang ia gunakan sederhana. Kukira, itulah akibat yang ia peroleh ketika naik gunung sering-sering. Meracik sendiri, masak sendiri, keenakan sendiri.
Lalu aku kembali ke masa baheula ketika satu grup sebal dengan Dirga akibat hobinya memuat foto makanan yang ia santap di restoran, kaki lima, pinggir jalan, terlihat terlalu nikmat. Ia melakukan itu ketika kami terpisah sejengkal rantau jauhnya. Ia melakukan itu ketika sedang pulang.
Aku mengingat bagaimana ia begitu sumringah mengepak kerilnya. Kemeja flanel kotak-kotak, kit-kat, dan kamera SLR tidak pernah jauh dari jarak pandangnya. Ia rela membongkar ulang demi rapi.
Lalu aku cukup memeras otak untuk mengamati wajahnya ketika ia mengepak pulang. Tangannya yang berotot begitu lemah menarik ritsleting dan alisnya yang luar biasa longsor tiba-tiba menjadi lurus dan mengambang dari garis sumbunya.
Aku ingat lalu aku memutuskan... dari ketidaksetujuannya dengan the beautifullest treasures lie in the deepest blue dan menggantinya dengan the beautifullest treasures lie in the highest blue (Coldplay – Army of One)...
Di dunia ini... ada orang-orang seperti Dirga. Banyak, malah... Yang menerima kenyataan bahwa rumah itu bukan berarti ayah dan ibu... bukan juga kakak dan adik... bukan pula pisang goreng hangat tiap pagi atau masakan ibu tiap hari... bukan lagi tempat yang kau selalu dengan enak glundang-glundung sana-sini... bukan.
Dirgantara bukan nama yang ia pilih asal-asalan, ternyata. Dirgantara bermakna angkasa. Potongan angkasa hanya bisa engkau dapat ketika kau mendaki setinggi-tingginya.
Dirgantara kesal pada ibu. Kesal dengan sikapnya yang sibuk melulu dan lupa punya anak yang sedang mengilmu di perantauan itu.
Dirgantara kesal pada ayah. Kesal ketika ayah bercomal-comel ria menggerutu karena meninggalkan pekerjaannya untuk menghadiri wisuda anaknya.
Dirgantara kesal pada adik-adiknya. Kesal dengan sikap hidupnya yang foya-foya dan sedikit mengenal agama.
Lalu aku mengerti mengapa ia gemar mendaki. Ia ingin pergi menyendiri di tempat sepi. Lalu aku mengerti betapa ahlinya ia meracik bumbu-bumbu sendiri. Ia kerap rindu dan tak berjumpa dengan masakan ibunya lagi. Lalu aku mengerti mengapa lantunan tilawahnya enggan berhenti meski kabut turun dan gerimis menepi. Ia menemukan ketenangan untuk jiwanya ketika dingin menyeruak arteri.
Bagi Dirga, rumah itu di sana... Di rerumputan alun-alun setiap gunung yang ia daki. Di antara pijakan tanah tertinggi gunung ia berdiri dan awan putih yang menggumpal serta berlari-lari. Di kedinginan sembahyangnya di samping tenda dengan cahaya lampu senter menari-nari. Di sekeliling kompor kotak bersama sohibnya ia makan indomie. Di sandaran belakang kerilnya ia tertatih dan terduduk pertama kali...
Rumah tak melulu soal bangunan beratap segitiga, tak melulu soal siapa, tak melulu soal hingar-bingar canda-tawa dan cengkrama yang kau menghela napas karenanya.
Karena bagi Dirga, rumah itu ketika suatu atmosfer membuat jiwanya tenang...
sudah...
dia pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar