Panggil saja Dirga. Aku lebih suka memanggilnya demikian
daripada dengan nama aslinya yang terdengar seperti jamur beracun itu.
Tentu saja Dirga bukan nama aslinya. Dirga, potongan dari
Dirgantara yang ia semat-sematkan sendiri sebagai nama rimba yang setiap
pencinta alam punya. Dahiku berkerut cukup keriting ketika ia memilih nama ini.
Terlalu bagus. Nama rimba harus sejelek kutu kupret kalau bisa.
Dirga punya senyum kecut yang kerap mekar di bibirnya yang
enggan bercumbu dengan rokok. Lalu kuberanikan bertanya mengapa dia begitu.
Apakah karena ketidakpulangannya berminggu-minggu atau karena hidung runcingnya
yang selalu peka wangi soto belum mencium aroma sakral itu.
Bibirnya melengkung tepat pada kata ‘pulang’.
Pulang? Hmmm... itu
hanyalah akal-akalan anak rantau sok tegar yang sejatinya adalah anak yang jika
di rumah bisa segitu manjanya seperti kucing kekenyangan, katanya.
Pulang? Hanyalah
sesuatu dibalik implisitnya ingin makan gratis dan jalan-jalan anti dompet tipis.
Pulang... rindu ibu,
katanya. Padahal ia hanya jago menarasikan rindu tanpa melakukan apa yang orang
lakukan jika merindu. Ia hanya diam ketika ibunya sedang menyapu atau mencuci..
eh bilangnya rindu.
Pulang... ke rumah.
Rumah yang berisikan orang-orang yang tidak bercengkrama hangat ketika berada
di bawah satu atap yang sama, namun nampak begitu ceria ya ketika foto hendak
diunggah ke sosial media.
Haha.
Lalu, apa arti rumah
menurut dia? Pikirku.
Ah aku kangen gunung,
Mer. Kamu gak mau naik? Yok lah bareng kalau mau. Siapa yang gak doyan ngabisin
Agustus di Semeru? Ia melirikku dengan pandangan yang luar biasa menggoda
untuk menjitaknya berkali-kali. Ia lanjut tersenyum dan menyala-matikan
senternya yang luar biasa membuat kucing mengeong cukup keras untuk
membangunkan satu kampung.
Aku biasanya terpukat dengan kata ‘Semeru’. Bagi Dirga wangi
soto, bagiku Oro-Oro Ombo. Tapi kali ini tidak. Aku malah berakhir dengan
menikmati pemandangan sandal jepitku yang bertuliskan Ojo Dimaling di bagian kiri dan Lek
Nyelang Ngomong di bagian kanan. Sejatinya aku melamun. Aku melamuni apa arti
semua perkataan Dirga barusan. Aku tak tahu, bahkan, dia serius atau bercanda.
Aku akan memutuskan dia bercanda jika aku gagal untuk tiba-tiba mengingat
banyak detil yang Dirga tak pernah ucap, namun kulihat dan dengar.
Aku mengingat bagaimana Dirga hampir tidak pernah ditelepon
ibunya. Ia mencocokkan ponselnya dengan telinganya dan berbicara dengan ibunya
itu pun dia dahulu yang menelepon. Jika tidak, tidak ada percakapan itu. Ibu
dan ayah sibuk, ujarnya.
Lalu aku membandingkan teman satu kosku yang ditelepon
mamaknya lima kali sehari sudah seperti waktu salat wajib.
Aku mengingat bagaimana yahudddnya
ikan bakar buatan Dirga. Padahal bumbu-bumbu yang ia gunakan sederhana. Kukira,
itulah akibat yang ia peroleh ketika naik gunung sering-sering. Meracik
sendiri, masak sendiri, keenakan sendiri.
Lalu aku kembali ke masa baheula
ketika satu grup sebal dengan Dirga akibat hobinya memuat foto makanan yang
ia santap di restoran, kaki lima, pinggir jalan, terlihat terlalu nikmat. Ia
melakukan itu ketika kami terpisah sejengkal rantau jauhnya. Ia melakukan itu
ketika sedang pulang.
Aku mengingat bagaimana ia begitu sumringah mengepak
kerilnya. Kemeja flanel kotak-kotak, kit-kat,
dan kamera SLR tidak pernah jauh dari
jarak pandangnya. Ia rela membongkar ulang demi rapi.
Lalu aku cukup memeras otak untuk mengamati wajahnya ketika
ia mengepak pulang. Tangannya yang berotot begitu lemah menarik ritsleting dan
alisnya yang luar biasa longsor tiba-tiba menjadi lurus dan mengambang dari
garis sumbunya.
Aku ingat lalu aku memutuskan... dari ketidaksetujuannya
dengan the beautifullest treasures lie in
the deepest blue dan menggantinya dengan the beautifullest treasures lie in the highest blue (Coldplay –
Army of One)...
Di dunia ini... ada
orang-orang seperti Dirga. Banyak, malah... Yang menerima kenyataan bahwa rumah
itu bukan berarti ayah dan ibu... bukan juga kakak dan adik... bukan pula
pisang goreng hangat tiap pagi atau masakan ibu tiap hari... bukan lagi tempat
yang kau selalu dengan enak glundang-glundung sana-sini... bukan.
Dirgantara bukan nama
yang ia pilih asal-asalan, ternyata. Dirgantara bermakna angkasa. Potongan
angkasa hanya bisa engkau dapat ketika kau mendaki setinggi-tingginya.
Dirgantara kesal pada
ibu. Kesal dengan sikapnya yang sibuk melulu dan lupa punya anak yang sedang
mengilmu di perantauan itu.
Dirgantara kesal pada
ayah. Kesal ketika ayah bercomal-comel ria menggerutu karena meninggalkan
pekerjaannya untuk menghadiri wisuda anaknya.
Dirgantara kesal pada
adik-adiknya. Kesal dengan sikap hidupnya yang foya-foya dan sedikit mengenal
agama.
Lalu aku mengerti
mengapa ia gemar mendaki. Ia ingin pergi menyendiri di tempat sepi. Lalu aku
mengerti betapa ahlinya ia meracik bumbu-bumbu sendiri. Ia kerap rindu dan tak
berjumpa dengan masakan ibunya lagi. Lalu aku mengerti mengapa lantunan
tilawahnya enggan berhenti meski kabut turun dan gerimis menepi. Ia menemukan
ketenangan untuk jiwanya ketika dingin menyeruak arteri.
Bagi Dirga, rumah itu
di sana... Di rerumputan alun-alun setiap gunung yang ia daki. Di antara
pijakan tanah tertinggi gunung ia berdiri dan awan putih yang menggumpal serta
berlari-lari. Di kedinginan sembahyangnya di samping tenda dengan cahaya lampu
senter menari-nari. Di sekeliling kompor kotak bersama sohibnya ia makan
indomie. Di sandaran belakang kerilnya ia tertatih dan terduduk pertama kali...
Rumah tak melulu soal
bangunan beratap segitiga, tak melulu soal siapa, tak melulu soal hingar-bingar
canda-tawa dan cengkrama yang kau menghela napas karenanya.
Karena bagi Dirga,
rumah itu ketika suatu atmosfer membuat jiwanya tenang...
sudah...
dia pulang.
