Dua belas.
Aku lelah. Bumi tak ingin hak gelap-terangnya diabaikan
sedikit pun, meskipun ia gemar bercumbu dengan Mendung. Dan memetir ketika aku
membelah Mendung menjadi gumpalan kapas tak bernyawa di angkasa. Seketika rona
birunya memutih keruh, membuih marah.
Aku bersinar gontai menuju horison barat yang kini tak hanya
biru, tetapi juga oranye, lembayung, dan merah jambu. Sinarku meredup bersama
terbitnya keraguan untuk percaya. Buih keruh Bumi terisap tenang menuju
dirinya. Kian membiru seiring ia berjalan anggun ke utara. Lalu buih-buih keruh
itu pudar dengan mudahnya dan membuat Bumi terlelap, dalam. Siapa gerangan?
Memudarkan buih keruh Bumi bagaikan meminta delapan planet
mengorbit pada satu garis lurus. Tapi... ia melakukan dengan mudahnya seperti
menyibak atmosfer. Naluri menguasaiku dan spontan aku mencoba meraihnya, namun
gravitasi pun tampaknya enggan bekerja sama. Aku hanya berhasil menyentuhnya
dengan sedikit bias. Ia hanya mengerling dan memberikan senyuman paling
mempesona di jagat raya.
~~~
“Rembulan, namanya”.
Aku bertanya pada Asteroid yang gemar melanglang galaksi.
Menanyakan siapa nama pemilik raga pucat penunduk buih. Juga, pemilik senyum
paling mempesona di jagat raya yang kutinggali.
“Dan percayalah... Kau harus melawan bintang-bintang.”
Mengapa? Untuk apa aku melawan bintang-bintang yang jelas
tak lebih terang?
~~~
Ceria, aku menggelitik penghuni Tata Surya dengan
ultraviolet. Memainkan tangisan Mendung dan melukiskan senyum Rembulan pada
ozon yang menipis dengan tujuh warna: Merah, aku cinta ia; Jingga, ketika aku
membarat menantinya datang; Kuning, pendar senyumnya yang mempesona; Hijau,
kupuja alam yang merestuinya hadir; Biru, kesenangannya memudarkan buih keruh
Bumi; Nila, pendar malam yang menaunginya; Ungu, tertanda dari diriku. Bumi mau
tak mau ikut tersenyum.
Hasrat enam ribu derajatku meletup riang, membuat Merkurius
tersipu dan merona kian merah. Aku senang meninggalkannya menuju barat walaupun
aku juga senang ia beredar cepat ke timur dan sesekali menoleh ke arahku. Sayang,
cintaku hanya untuk Rembulan. Dan aku tak bisa memikirkan bahwa masih banyak
matahari di Bimasakti karena akulah yang paling dekat dengan Rembulan, yang
paling terang, dan yang paling memikat, sehingga suatu ketidakmungkinan ia tak
melihatku.
~~~
Rembulan... aku menyapanya. Ia tak menoleh. Parasnya tetap
menghadap Bumi...
Sedingin itu Rembulan. Kini jarakku dan ia melintang
sempurna. Terkejut, aku melihatnya tersenyum: tidak semerekah senyum sabitnya,
namun cembung tanda merahasiakan sejagat rasa. Aku mendengarnya berkata lirih,
“Biarkan Bumi berada di antaramu dan ku”.
Rembulan penuh teka-teki. Tak jarang Bumi menggunjingnya
karena tak bisa mencarinya di tumpukan malam. Aku bertanya apakah para ranting
bekerja sama dengannya pula, yang tak jarang menutupinya dari para serigala. Banyak sekali yang berkawan denganmu,
Rembulan, batinku. Lalu aku bertanya-tanya sendiri. Bagaimana aku bisa
melihat wajah Rembulan jika Bumi berada di antara kami?
Dalam diriku yang tak pernah redup, aku percaya. Bahwa tuhan
semesta ini bukanlah logika.
bersambung