Senin, 18 April 2016

Bintang Yang Terlambat Pergi



Malamku habis digerus puisi, sajak,
memuji-nya, tentangmu...
tentang hujan di suatu malam yang kau tembus demi tarawih
tentang shubuh yang kau syahdukan dengan tasbih
Bagian terganas diriku bersenandung lirih namun merdu
“Allah, aku ingin dia bersanding denganku”

Sayang...nya
kau memanggilku bintang, kau pun tanah
Sayang...
tak tahukah kau kemana bintang selalu jatuh?
Sayang...nya
kau memanggilku putri, kau pun rakyat jelata
Sayang...                                                 
tak tahukah kau sudah bukan tradisi putri menikahi pangeran?

Kau lihat bintang, kau lihat masa lalu
haruslah pijarku mati, namun aku bintang yang terlambat pergi
atau tidak sama sekali
Aku tetap tergantung di sana
meskipun fajar melahirkan siang
Aku tetap tergantung di sana
meskipun mendung menggelayut riang

Maaf, kau tak bisa mencari aku di rimbun perhatian
Maaf, kau tak bisa mencari aku di relung romansa
Maaf, kau tak bisa menemukanku di kalbu semesta...
Jumpai aku dalam kata.. karena cakapku tak pernah rancu
Jumpai aku dalam nada.. karena tentangmu tak pernah biru
Jumpai aku dalam tumpukan doa.. karena banyak terselip namamu di sana

Dari Sudut Tergelap Malam



Berlari menuju horison barat,
rerumputan mulai pirang
terlalu banyak perih terkalkulasi
sedang tak ada dian yang cahayanya terdifusi
kegelapan pun menjadi aku

Semua orang melepas topeng, semua jiwa melepas tudung
mereka melarung jengahnya ke tangis
rona jingga pada pipinya memudar
seiring menghempaskan dirinya ke pelukan malam
tiap serapah kini beraliansi
menyulam diri menjadi momok tiap diri
Sedih, gundah, silakan saja
toh dalam gelap semua hal tak terperiksa

Ada yang menyalahkan tuhan
Ada yang menghujat hidup
Ada yang menghina diri sendiri
Ada yang mengutuk orang lain
Ada yang menuduh kenangan
Ada yang mencaci harapan
Dalam selimutnya, ia menggema
“Hidup ini tidak adil”

Hidup ini tidak adil?
Hah? Oh ya? Bagaimana bisa?
Kantukku terantuk menuju nokturnal
dan jemari memuja dawai
tanpa spasi, inderaku berbisik
“Jika semua orang menganggap hidup itu tak adil, bukankah hidup itu adil?”
Satu tergelincir harta, satu tergelincir kata
Satu ditolak cintanya, satu mencinta yang tak mencintanya
Satu gemar bercerita, satu gemar menjadi tuli
“Jika semua orang menganggap hidup itu tak adil, bukankah hidup itu adil?”

Selasa, 12 April 2016

Ultraviolet



Dua belas. 

Aku lelah. Bumi tak ingin hak gelap-terangnya diabaikan sedikit pun, meskipun ia gemar bercumbu dengan Mendung. Dan memetir ketika aku membelah Mendung menjadi gumpalan kapas tak bernyawa di angkasa. Seketika rona birunya memutih keruh, membuih marah.
Aku bersinar gontai menuju horison barat yang kini tak hanya biru, tetapi juga oranye, lembayung, dan merah jambu. Sinarku meredup bersama terbitnya keraguan untuk percaya. Buih keruh Bumi terisap tenang menuju dirinya. Kian membiru seiring ia berjalan anggun ke utara. Lalu buih-buih keruh itu pudar dengan mudahnya dan membuat Bumi terlelap, dalam. Siapa gerangan?
Memudarkan buih keruh Bumi bagaikan meminta delapan planet mengorbit pada satu garis lurus. Tapi... ia melakukan dengan mudahnya seperti menyibak atmosfer. Naluri menguasaiku dan spontan aku mencoba meraihnya, namun gravitasi pun tampaknya enggan bekerja sama. Aku hanya berhasil menyentuhnya dengan sedikit bias. Ia hanya mengerling dan memberikan senyuman paling mempesona di jagat raya.
~~~
“Rembulan, namanya”.
Aku bertanya pada Asteroid yang gemar melanglang galaksi. Menanyakan siapa nama pemilik raga pucat penunduk buih. Juga, pemilik senyum paling mempesona di jagat raya yang kutinggali.
“Dan percayalah... Kau harus melawan bintang-bintang.”
Mengapa? Untuk apa aku melawan bintang-bintang yang jelas tak lebih terang?
~~~
Ceria, aku menggelitik penghuni Tata Surya dengan ultraviolet. Memainkan tangisan Mendung dan melukiskan senyum Rembulan pada ozon yang menipis dengan tujuh warna: Merah, aku cinta ia; Jingga, ketika aku membarat menantinya datang; Kuning, pendar senyumnya yang mempesona; Hijau, kupuja alam yang merestuinya hadir; Biru, kesenangannya memudarkan buih keruh Bumi; Nila, pendar malam yang menaunginya; Ungu, tertanda dari diriku. Bumi mau tak mau ikut tersenyum.
Hasrat enam ribu derajatku meletup riang, membuat Merkurius tersipu dan merona kian merah. Aku senang meninggalkannya menuju barat walaupun aku juga senang ia beredar cepat ke timur dan sesekali menoleh ke arahku. Sayang, cintaku hanya untuk Rembulan. Dan aku tak bisa memikirkan bahwa masih banyak matahari di Bimasakti karena akulah yang paling dekat dengan Rembulan, yang paling terang, dan yang paling memikat, sehingga suatu ketidakmungkinan ia tak melihatku.
~~~
Rembulan... aku menyapanya. Ia tak menoleh. Parasnya tetap menghadap Bumi...
Sedingin itu Rembulan. Kini jarakku dan ia melintang sempurna. Terkejut, aku melihatnya tersenyum: tidak semerekah senyum sabitnya, namun cembung tanda merahasiakan sejagat rasa. Aku mendengarnya berkata lirih, “Biarkan Bumi berada di antaramu dan ku”.
Rembulan penuh teka-teki. Tak jarang Bumi menggunjingnya karena tak bisa mencarinya di tumpukan malam. Aku bertanya apakah para ranting bekerja sama dengannya pula, yang tak jarang menutupinya dari para serigala. Banyak sekali yang berkawan denganmu, Rembulan, batinku. Lalu aku bertanya-tanya sendiri. Bagaimana aku bisa melihat wajah Rembulan jika Bumi berada di antara kami?
Dalam diriku yang tak pernah redup, aku percaya. Bahwa tuhan semesta ini bukanlah logika.


bersambung