Selasa, 03 Januari 2017

Apa Itu Cinta?



Zzzzz...
dan rotasi bola mataku yang bertahi lalat akan mengecam harimu setiap kali kau bertanya apa itu cinta. Benda yang kau agung-agungkan itu mampu mengajak dirimu sendiri ke dalam pikiran seorang gadis kecil berusia sembilan tahun yang dibenaknya hanya menginginkan baju kupu-kupu yang merkok (mekrok, mengembang) sembari menikmati tiap jilatan yang ia daratkan pada permen kapas merah jambu. 

Aku memainkan tokoh antagonis dalam pikiran gadis itu. Mainkan matanya sedikit dan akan kuceritakan apa yang gadis itu lihat, yang gadis itu pikir, dan yang gadis itu pertanyakan pada benaknya yang tak mampu menjawab.

Bagaimana bisa wanita secantik, selangsing, dan sebersih itu kulitnya menikahi seorang pria yang bertubuh gendut, pendek, dan lehernya yang saking hitamnya seperti tidak pernah digosok?
Bagaimana bisa lelaki setampan itu menikahi wanita yang giginya agak tonggos itu?
Bagaimana bisa wanita dengan detil wajah kasar dan sedikit bopeng itu mendapatkan suami yang kulitnya jauh lebih lembut?
Bagaimana bisa lelaki sejangkung itu mencintai wanita yang bertubuh pendek, kurus, kecil?
Bagaimana bisa wanita yang segarang itu mendapatkan seorang suami yang mungkin kalah garang dengannya?
Bagaimana bisa lelaki pendiam itu tahan menghadapi hari demi hari hidup bersama istrinya yang super cerewet, doyan gosip, dan suka nyerobot antrean yang mengular?

Semua yang ia lihat dan pikir hanya berakhir dengan bagaimana bisa.
Lalu aku cukup egois dan kuat menarikmu pada pemikiran seorang gadis yang baru saja genap berusia tujuh belas tahun. Dia akan melirikmu sekuat tenaga dan bilang mau apa kau? jika kau beranggapan bahwa cinta itu sekonyol novel teenlit yang dia benci atau kopi dingin yang dia enggan minum. 

Aku memainkan tokoh melankolis yang patutnya tak ada dalam diri gadis koleris. Ajak dia bicara sedikit, dan kau akan dengar kata mutiara yang baru bisa kau temukan setelah menyelam beberapa kilometer dalamnya.

Kalau sudah cinta, tai kucing pun rasa cokelat.
Kalau sudah cinta, semua hal negatif orang yang kau suka itu akan pudar sendiri dalam pandanganmu. Meskipun pandanganmu jelas, kau dibuat rabun.
Kalau sudah cinta, kau tak akan peduli apa kata orang tentang pasanganmu bahkan tentang bodohnya dirimu karena bertahan mencintanya.
Kalau sudah cinta, sejelek apapun orang itu, pasti kaulah salah satu orang yang bilang dia terganteng atau tercantik di samping emaknya.

Kalau sudah cinta menjadi simpulan jawaban atas pertanyaanmu jika kau mengizinkan gadis tujuh belas tahun pembenci teenlit dan kopi dingin itu merasuki pikiranmu. Apa kau sudah puas mendengar jawabannya? Aku rasa tidak. Karena jawaban yang kau butuhkan itu Cinta itu... bukan Bagaimana bisa atau Kalau sudah cinta. Iya, bukan?

Sebab di sini kau menantikan sebuah deskripsi. Begitu pula aku yang harus menunggu dua puluh tahun untuk memahami karena menggali-gali sendiri. Pertanyaannya, Apa itu Cinta? 

Kuyakin kau sudi mendengar sedikit narasi dan menjelajah sedikit pikiran orang ini meskipun tak semua petualangan akan kau nikmati dengan gairah yang sama besarnya sepertiku. Tapi ini dia: seorang gadis yang usianya sudah berkepala dua, bercerita dan ketika ditanya. 

Cinta itu... punya bukti. Buktinya adalah dengan sering menyebut namanya. Jika kau suka Fulan, maka kau akan sering menyebut nama Fulan. Pertanyaannya, ketika kau berkata kau cinta Allah tapi jarang berdzikir, apakah kau yakin bahwa yang kau ucapkan itu benar dari hati? Atau hanya sebuah kisah romansa yang bertepuk sebelah tangan saja antara kau dengan Sang Pencipta?
Cinta itu... butuh alasan. Aku tak setuju lagi dengan cinta tanpa alasan mengalahkan segalanya. Cinta tanpa alasan yang datang tiba-tiba itu kebanyakan melumpuhkan hati dan logika. Cinta yang datang tiba-tiba itu bisa jadi ujian dari-Nya yang mengujimu kau masih tetap kembali pada-Nya atau tidak. Cinta itu butuh alasan. Alasan apa? Bahwa engkau mencintai dia karena Allah. Karena agamanyalah yang mampu mendekatkanmu dengan Sang Pencipta. Meskipun engkau telah terlalu tertarik dengan dia yang rupawan, keturunan darah biru, bahkan kaya sekalipun, atau yang kau cintai tanpa alasan hanya karena kagum yang kau sendiri tak tahu dari bagian mana. Namun, apabila Allah yang ada di hatimu, aku yakin kau memilih yang mana ketika pemilik ketiga itu tak memiliki satu yang unggul.
Cinta itu... percayalah, bisa kau kontrol sesuka hati. Kau bisa bebas jatuh cinta pada siapa saja yang kau kehendaki, jika kau mau berhenti melihat kekurangan yang hakikatnya dimiliki setiap manusia dan fokus pada kelebihan yang ia usahakan untuk tampak. Setelah kau memilih dia karena agamanya, kau bisa melakukan ini padanya, dan menutup diri juga hati untuk mencoba menjatuhkannya pada hati yang lain lagi.
Cinta itu... bisa dideskripsikan. Hanya mereka yang merasa penyair dan terlalu naif yang berkata bahwa cinta tak bisa dideskripsikan. Jika tidak bisa dideskripsikan, mengapa mereka tak jua berhenti menulis puisi cinta yang enggan terkena cerca? “Jangan cemberut” “Awas jatuh” “Kalau sudah sampai, kabari aku ya!”. Cinta sesederhana itu. Dia bukan logaritma pangkat lima yang diakar dan diintegralkan sehingga sulit dideskripsikan.

Zzzz... pada akhirnya aku harus menyudahi tarikanku padamu untuk menjelajah definisi barang yang kau tanya-tanyakan sekitar lima menit lalu.

Percayalah... tiga pemikiran itu milik satu orang yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar