Selasa, 12 April 2016

Ultraviolet



Dua belas. 

Aku lelah. Bumi tak ingin hak gelap-terangnya diabaikan sedikit pun, meskipun ia gemar bercumbu dengan Mendung. Dan memetir ketika aku membelah Mendung menjadi gumpalan kapas tak bernyawa di angkasa. Seketika rona birunya memutih keruh, membuih marah.
Aku bersinar gontai menuju horison barat yang kini tak hanya biru, tetapi juga oranye, lembayung, dan merah jambu. Sinarku meredup bersama terbitnya keraguan untuk percaya. Buih keruh Bumi terisap tenang menuju dirinya. Kian membiru seiring ia berjalan anggun ke utara. Lalu buih-buih keruh itu pudar dengan mudahnya dan membuat Bumi terlelap, dalam. Siapa gerangan?
Memudarkan buih keruh Bumi bagaikan meminta delapan planet mengorbit pada satu garis lurus. Tapi... ia melakukan dengan mudahnya seperti menyibak atmosfer. Naluri menguasaiku dan spontan aku mencoba meraihnya, namun gravitasi pun tampaknya enggan bekerja sama. Aku hanya berhasil menyentuhnya dengan sedikit bias. Ia hanya mengerling dan memberikan senyuman paling mempesona di jagat raya.
~~~
“Rembulan, namanya”.
Aku bertanya pada Asteroid yang gemar melanglang galaksi. Menanyakan siapa nama pemilik raga pucat penunduk buih. Juga, pemilik senyum paling mempesona di jagat raya yang kutinggali.
“Dan percayalah... Kau harus melawan bintang-bintang.”
Mengapa? Untuk apa aku melawan bintang-bintang yang jelas tak lebih terang?
~~~
Ceria, aku menggelitik penghuni Tata Surya dengan ultraviolet. Memainkan tangisan Mendung dan melukiskan senyum Rembulan pada ozon yang menipis dengan tujuh warna: Merah, aku cinta ia; Jingga, ketika aku membarat menantinya datang; Kuning, pendar senyumnya yang mempesona; Hijau, kupuja alam yang merestuinya hadir; Biru, kesenangannya memudarkan buih keruh Bumi; Nila, pendar malam yang menaunginya; Ungu, tertanda dari diriku. Bumi mau tak mau ikut tersenyum.
Hasrat enam ribu derajatku meletup riang, membuat Merkurius tersipu dan merona kian merah. Aku senang meninggalkannya menuju barat walaupun aku juga senang ia beredar cepat ke timur dan sesekali menoleh ke arahku. Sayang, cintaku hanya untuk Rembulan. Dan aku tak bisa memikirkan bahwa masih banyak matahari di Bimasakti karena akulah yang paling dekat dengan Rembulan, yang paling terang, dan yang paling memikat, sehingga suatu ketidakmungkinan ia tak melihatku.
~~~
Rembulan... aku menyapanya. Ia tak menoleh. Parasnya tetap menghadap Bumi...
Sedingin itu Rembulan. Kini jarakku dan ia melintang sempurna. Terkejut, aku melihatnya tersenyum: tidak semerekah senyum sabitnya, namun cembung tanda merahasiakan sejagat rasa. Aku mendengarnya berkata lirih, “Biarkan Bumi berada di antaramu dan ku”.
Rembulan penuh teka-teki. Tak jarang Bumi menggunjingnya karena tak bisa mencarinya di tumpukan malam. Aku bertanya apakah para ranting bekerja sama dengannya pula, yang tak jarang menutupinya dari para serigala. Banyak sekali yang berkawan denganmu, Rembulan, batinku. Lalu aku bertanya-tanya sendiri. Bagaimana aku bisa melihat wajah Rembulan jika Bumi berada di antara kami?
Dalam diriku yang tak pernah redup, aku percaya. Bahwa tuhan semesta ini bukanlah logika.


bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar