Berlari menuju horison barat,
rerumputan mulai pirang
terlalu banyak perih terkalkulasi
sedang tak ada dian yang cahayanya terdifusi
kegelapan pun menjadi aku
Semua orang melepas topeng, semua jiwa melepas tudung
mereka melarung jengahnya ke tangis
rona jingga pada pipinya memudar
seiring menghempaskan dirinya ke pelukan malam
tiap serapah kini beraliansi
menyulam diri menjadi momok tiap diri
Sedih, gundah, silakan saja
toh dalam gelap semua hal tak terperiksa
Ada yang menyalahkan tuhan
Ada yang menghujat hidup
Ada yang menghina diri sendiri
Ada yang mengutuk orang lain
Ada yang menuduh kenangan
Ada yang mencaci harapan
Dalam selimutnya, ia menggema
“Hidup ini tidak adil”
Hidup ini tidak adil?
Hah? Oh ya? Bagaimana bisa?
Kantukku terantuk menuju nokturnal
dan jemari memuja dawai
tanpa spasi, inderaku berbisik
“Jika semua orang menganggap hidup itu tak adil, bukankah
hidup itu adil?”
Satu tergelincir harta, satu tergelincir kata
Satu ditolak cintanya, satu mencinta yang tak mencintanya
Satu gemar bercerita, satu gemar menjadi tuli
“Jika semua orang menganggap hidup itu tak adil, bukankah
hidup itu adil?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar