Zzzzz...
dan rotasi bola mataku yang bertahi lalat akan mengecam
harimu setiap kali kau bertanya apa itu cinta. Benda yang kau agung-agungkan
itu mampu mengajak dirimu sendiri ke dalam pikiran seorang gadis kecil berusia
sembilan tahun yang dibenaknya hanya menginginkan baju kupu-kupu yang merkok (mekrok, mengembang) sembari
menikmati tiap jilatan yang ia daratkan pada permen kapas merah jambu.
Aku memainkan tokoh antagonis dalam pikiran gadis itu.
Mainkan matanya sedikit dan akan kuceritakan apa yang gadis itu lihat, yang
gadis itu pikir, dan yang gadis itu pertanyakan pada benaknya yang tak mampu
menjawab.
Bagaimana bisa wanita
secantik, selangsing, dan sebersih itu kulitnya menikahi seorang pria yang
bertubuh gendut, pendek, dan lehernya yang saking hitamnya seperti tidak pernah
digosok?
Bagaimana bisa lelaki
setampan itu menikahi wanita yang giginya agak tonggos itu?
Bagaimana bisa wanita
dengan detil wajah kasar dan sedikit bopeng itu mendapatkan suami yang kulitnya
jauh lebih lembut?
Bagaimana bisa lelaki
sejangkung itu mencintai wanita yang bertubuh pendek, kurus, kecil?
Bagaimana bisa wanita
yang segarang itu mendapatkan seorang suami yang mungkin kalah garang
dengannya?
Bagaimana bisa lelaki
pendiam itu tahan menghadapi hari demi hari hidup bersama istrinya yang super
cerewet, doyan gosip, dan suka nyerobot antrean yang mengular?
Semua yang ia lihat dan pikir hanya berakhir dengan bagaimana bisa.
Lalu aku cukup egois dan kuat menarikmu pada pemikiran
seorang gadis yang baru saja genap berusia tujuh belas tahun. Dia akan
melirikmu sekuat tenaga dan bilang mau
apa kau? jika kau beranggapan bahwa cinta itu sekonyol novel teenlit yang
dia benci atau kopi dingin yang dia enggan minum.
Aku memainkan tokoh melankolis yang patutnya tak ada dalam
diri gadis koleris. Ajak dia bicara sedikit, dan kau akan dengar kata mutiara
yang baru bisa kau temukan setelah menyelam beberapa kilometer dalamnya.
Kalau sudah cinta, tai
kucing pun rasa cokelat.
Kalau sudah cinta,
semua hal negatif orang yang kau suka itu akan pudar sendiri dalam pandanganmu.
Meskipun pandanganmu jelas, kau dibuat rabun.
Kalau sudah cinta, kau
tak akan peduli apa kata orang tentang pasanganmu bahkan tentang bodohnya
dirimu karena bertahan mencintanya.
Kalau sudah cinta,
sejelek apapun orang itu, pasti kaulah salah satu orang yang bilang dia terganteng
atau tercantik di samping emaknya.
Kalau sudah cinta
menjadi simpulan jawaban atas pertanyaanmu jika kau mengizinkan gadis tujuh
belas tahun pembenci teenlit dan kopi dingin itu merasuki pikiranmu. Apa kau
sudah puas mendengar jawabannya? Aku rasa tidak. Karena jawaban yang kau
butuhkan itu Cinta itu... bukan Bagaimana bisa atau Kalau sudah cinta. Iya, bukan?
Sebab di sini kau menantikan sebuah deskripsi. Begitu pula
aku yang harus menunggu dua puluh tahun untuk memahami karena menggali-gali
sendiri. Pertanyaannya, Apa itu Cinta?
Kuyakin kau sudi mendengar sedikit narasi dan menjelajah
sedikit pikiran orang ini meskipun tak semua petualangan akan kau nikmati
dengan gairah yang sama besarnya sepertiku. Tapi ini dia: seorang gadis yang
usianya sudah berkepala dua, bercerita dan ketika ditanya.
Cinta itu... punya
bukti. Buktinya adalah dengan sering menyebut namanya. Jika kau suka Fulan,
maka kau akan sering menyebut nama Fulan. Pertanyaannya, ketika kau berkata kau
cinta Allah tapi jarang berdzikir, apakah kau yakin bahwa yang kau ucapkan itu
benar dari hati? Atau hanya sebuah kisah romansa yang bertepuk sebelah tangan
saja antara kau dengan Sang Pencipta?
Cinta itu... butuh
alasan. Aku tak setuju lagi dengan cinta tanpa alasan mengalahkan segalanya.
Cinta tanpa alasan yang datang tiba-tiba itu kebanyakan melumpuhkan hati dan
logika. Cinta yang datang tiba-tiba itu bisa jadi ujian dari-Nya yang mengujimu
kau masih tetap kembali pada-Nya atau tidak. Cinta itu butuh alasan. Alasan
apa? Bahwa engkau mencintai dia karena Allah. Karena agamanyalah yang mampu mendekatkanmu
dengan Sang Pencipta. Meskipun engkau telah terlalu tertarik dengan dia yang
rupawan, keturunan darah biru, bahkan kaya sekalipun, atau yang kau cintai
tanpa alasan hanya karena kagum yang kau sendiri tak tahu dari bagian mana. Namun,
apabila Allah yang ada di hatimu, aku yakin kau memilih yang mana ketika
pemilik ketiga itu tak memiliki satu yang unggul.
Cinta itu...
percayalah, bisa kau kontrol sesuka hati. Kau bisa bebas jatuh cinta pada siapa
saja yang kau kehendaki, jika kau mau berhenti melihat kekurangan yang
hakikatnya dimiliki setiap manusia dan fokus pada kelebihan yang ia usahakan
untuk tampak. Setelah kau memilih dia karena agamanya, kau bisa melakukan ini
padanya, dan menutup diri juga hati untuk mencoba menjatuhkannya pada hati yang
lain lagi.
Cinta itu... bisa dideskripsikan. Hanya mereka yang merasa penyair dan
terlalu naif yang berkata bahwa cinta tak bisa dideskripsikan. Jika tidak bisa
dideskripsikan, mengapa mereka tak jua berhenti menulis puisi cinta yang enggan
terkena cerca? “Jangan cemberut” “Awas jatuh” “Kalau sudah sampai, kabari aku
ya!”. Cinta sesederhana itu. Dia bukan logaritma pangkat lima yang diakar dan
diintegralkan sehingga sulit dideskripsikan.
Zzzz... pada
akhirnya aku harus menyudahi tarikanku padamu untuk menjelajah definisi barang
yang kau tanya-tanyakan sekitar lima menit lalu.
Percayalah... tiga pemikiran itu milik satu orang yang sama.

