Jumat, 22 Januari 2016

Aku Ingin Bermain

Usia... 20 tahun. Kedewasaan... mungkin 40 tahun-an.

Aku dituakan. 
                                                                            ***
Ponsel ini terus bergetar, sehingga harus kumatikan nada deringnya agar tak mengganggu orang-orang satu gerbong. Ya. Aku suka naik kereta api. Memandangi hamparan sawah, menulis monolog, dan mengetahui ternyata ada daerah-daerah kecil yang belum pernah kudengar namanya sebelum ini membuatku merasa klasik. Ada ketenangan tersendiri bagiku pada momen seperti itu. Kuharap aku bisa menaikinya berkali-kali, lagi.

Terbersit di pikiranku bahwa suatu hari, selama aku masih bebas dan sendiri, aku akan membeli satu tiket untuk membawaku berkelana pergi. Kemana? Kemanapun kakiku ingin turun dan berlari, dengan kemeja kotak-kotak kebesaran serta topi terbalik.

Jika kau bertanya apa yang akan kulakukan, aku tak akan memberikan jawaban yang pasti. Karena suatu rencana pun bisa begitu abstrak di kepalaku. Mungkin melihat ilalang tumbuh... atau bergabung dengan anak-anak yang bermain layangan di tanah lapang, yang hanya mengenakan singlet dan celana usang... bermalam di teras toko yang sudah tutup... berkenalan dengan lelaki sebaya yang tampan lalu menghilang seperti Cinderella dan mematahkan hatinya... mendokumentasikan cahaya shubuh dan maghrib... mungkin seperti itu...

Dalam momen itu, aku ingin menjadi sembrono, kekanak-kanakan, membuat banyak kesalahan, jatuh dan tergores namun langsung bangkit dan tertawa lalu bermain kembali... seperti anak kecil yang tak tahu akan berdarah setelah jatuh atau terjerembab. Karena akan ada kenangan atas kesembronoanku, tawa nakal atas kekanak-kanakanku, pelajaran atas kesalahanku, cerita di balik semua bekas lukaku... bukti bahwa aku pernah merasakan suatu masa dariku yang dulunya ia dicuri: masa kanak-kanak yang menyenangkan hati.

Dalam momen itu, aku tak ingin berjalan setegap manekin... atau melangkah cepat melambangkan sigap... atau menatap apapun/siapapun dengan tatapan tajam... atau mengingat hal-hal yang membuatku sekuat marmer... seperti ini. Untuk sekali, aku ingin dianggap lemah, insecure, unvulnerable...

Aku ingin merasa hidup sebentar di masa yang tak pernah kumiliki. Masa di mana teman-temanku menimbang tepung untuk bermain, sedangkan aku membantu ibuku menimbang buku bekasku untuk dirombeng karena hanya ada tiga ratus perak di rumah. Masa di mana teman-temanku tersenyum mengenakan pakaian olahraga baru dan layak untuk senam di baris depan, sedangkan aku berdiri di belakang terhalang pohon untuk melihat guruku memberikan instruksi. Masa di mana teman-temanku yang cantik mudah memperoleh nilai bagus walaupun tak begitu pintar, sedangkan aku diasingkan karena merupakan ancaman. Masa di mana waktu itu menjadi kenangan manis bagi teman-temanku, sedangkan diundang reuni pun aku tak mau... Karena kembali kepada pisau dan kapak yang memahatku, memungkinkan untuk membuatku hancur, atau lebih lagi...

 --
Lalu aku akan berlari mengejar kereta yang membawaku pulang. Bergelayut di daun pintunya dengan senyum berseri dan wajah cemong... bersama rumput-rumput kering yang menempel di beberapa sudut pakaianku...

                                                                               ***

Aku pulang. Aku muda sekarang...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar