Asap frappe-ku
masih mengepul walaupun aku sudah duduk di sini selama lima belas menit. Duduk
di salah satu meja bulat di sebuah kedai kopi dengan notebook terbuka dan pulpen klasik. Pulpen itu kutimang-timang
dengan dua jariku sedari tadi, menghasilkan titik-titik tak berarti di halaman
yang akan kuisi... membuat pikiranku sedikit lebih keruh... sehingga perasaanku
sedikit biru...
Dan aku mulai bercerita...
Tentang suatu malam di
bulan Juni
Ketika mendung
menyelimuti langit kota Jogja
dan wangi asap ronde
menggelitik lidah
Kau membagi kehangatan
yang sama dengan semangkuk wedang itu
Manis... seperti
cincin kayu yang kau sematkan di jari manis tangan kiriku
Manis... seperti
secangkir teh yang tiap pagi kau seduh
Buru-buru, tak ada
kecupan di kening
Hanya “aku
berangkat... siapkan makan malam saat aku pulang”
Seketika geramku
menjadi tangis
Karena ku percaya...
bukan badai yang menumbuhkan tanaman, melainkan hujan...
Namun, kau malah
menyebarkan wabah
Diammu menyerang...
lalu perlahan membunuh
Menggerutu...
Kala kau lihat
bongkar-pasang yang tadinya berbentuk rumah-rumahan itu...
berserakan di ruang
tamu
Kau tahu, hatiku lebih
hancur dari semua lego itu
Kau hanya tertegun
melihat dua malaikat kecil itu
Senyummu mengembang
tipis...
Namun bisa kulihat
petir menyambar di matamu walau hanya segaris
Tak seperti tawamu
ketika kukejar dirimu hingga ke pekarangan
Karena menghabiskan
secangkir kopiku dalam sekali tenggak
Tak seperti gelak tawaku
juga
Ketika membuka pesan
di suatu pagi tepat setelah aku dan kau bangun
Di sana hanya ada “Selamat
Pagi”
Hingga sakit perutku
mengetahui bahwa kau lah yang mengirim pesan itu
Hanya itu yang
membuatmu bertahan
Karena aku yang
melahirkan dua malaikat kecil yang memberikanmu selingan
Tidak semembuncah
perasaanmu ketika mengirimkan pesawat kertas ke kamarku,
yang berisikan “I Love
You”
Aku lebih rindu cincin
kayu itu, yang harganya seribu, yang sudah dimakan rayap
Daripada lingkaran
emas bertatakan permata hijau ini, yang mengikatkanku padamu, lebih erat
Kau tahu...
Ikan yang kau pancing
dulu ini tak kau beri makan lagi
Bahkan warnanya tak
berubah, tak berkilau, meskipun air dan cahaya memeluknya
Tak semakin indah
ketika kau jaga
Hingga hatinya ikut
mengerut
Bersama perasaan saat
bertemu pemancingnya dulu
Kau menyelamatkannya
dari bahaya ombak lautan
Namun, kau tak juga
memberikannya rasa bebas
Karena kau biarkan ia
membersihkan sendiri akuariumnya
Dan bertahan dengan
keindahan-keindahan palsu yang lama-lama memuakkannya
Aku terseok, renta terlalu
cepat
Digelayuti dua
malaikat pada satu diri ini
Kau berkata “Cepatlah...
Kau harus kuat!”
Namun, tak sedikitpun
kau memaksaku membagi satu bebanku
Dan aku akhirnya
menimpali, “Beginilah rasanya berjuang sendiri”
Trrssttt..... kusobek halaman itu dari jilid spiralnya.
Kulipat rapi dan kumasukkan ke amplop kecil berwarna jingga. Lalu tulisan
keritingku mulai tertanam di satu sisi,
Teruntuk lelaki, yang seminggu lagi
kunikahi...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar