Senin, 25 Januari 2016

Bukan Sekedar Ibu dari Anak-anakmu



Asap frappe-ku masih mengepul walaupun aku sudah duduk di sini selama lima belas menit. Duduk di salah satu meja bulat di sebuah kedai kopi dengan notebook terbuka dan pulpen klasik. Pulpen itu kutimang-timang dengan dua jariku sedari tadi, menghasilkan titik-titik tak berarti di halaman yang akan kuisi... membuat pikiranku sedikit lebih keruh... sehingga perasaanku sedikit biru...
Dan aku mulai bercerita...

Tentang suatu malam di bulan Juni
Ketika mendung menyelimuti langit kota Jogja
dan wangi asap ronde menggelitik lidah
Kau membagi kehangatan yang sama dengan semangkuk wedang itu
Manis... seperti cincin kayu yang kau sematkan di jari manis tangan kiriku
Manis... seperti secangkir teh yang tiap pagi kau seduh
Buru-buru, tak ada kecupan di kening
Hanya “aku berangkat... siapkan makan malam saat aku pulang”
Seketika geramku menjadi tangis
Karena ku percaya... bukan badai yang menumbuhkan tanaman, melainkan hujan...
Namun, kau malah menyebarkan wabah
Diammu menyerang... lalu perlahan membunuh
Menggerutu...
Kala kau lihat bongkar-pasang yang tadinya berbentuk rumah-rumahan itu...
berserakan di ruang tamu
Kau tahu, hatiku lebih hancur dari semua lego itu

Kau hanya tertegun melihat dua malaikat kecil itu
Senyummu mengembang tipis...
Namun bisa kulihat petir menyambar di matamu walau hanya segaris
Tak seperti tawamu ketika kukejar dirimu hingga ke pekarangan
Karena menghabiskan secangkir kopiku dalam sekali tenggak
Tak seperti gelak tawaku juga
Ketika membuka pesan di suatu pagi tepat setelah aku dan kau bangun
Di sana hanya ada “Selamat Pagi”
Hingga sakit perutku mengetahui bahwa kau lah yang mengirim pesan itu

Hanya itu yang membuatmu bertahan
Karena aku yang melahirkan dua malaikat kecil yang memberikanmu selingan
Tidak semembuncah perasaanmu ketika mengirimkan pesawat kertas ke kamarku,
yang berisikan “I Love You”
Aku lebih rindu cincin kayu itu, yang harganya seribu, yang sudah dimakan rayap
Daripada lingkaran emas bertatakan permata hijau ini, yang mengikatkanku padamu, lebih erat
Kau tahu...
Ikan yang kau pancing dulu ini tak kau beri makan lagi
Bahkan warnanya tak berubah, tak berkilau, meskipun air dan cahaya memeluknya
Tak semakin indah ketika kau jaga
Hingga hatinya ikut mengerut
Bersama perasaan saat bertemu pemancingnya dulu
Kau menyelamatkannya dari bahaya ombak lautan
Namun, kau tak juga memberikannya rasa bebas
Karena kau biarkan ia membersihkan sendiri akuariumnya
Dan bertahan dengan keindahan-keindahan palsu yang lama-lama memuakkannya

Aku terseok, renta terlalu cepat
Digelayuti dua malaikat pada satu diri ini
Kau berkata “Cepatlah... Kau harus kuat!”
Namun, tak sedikitpun kau memaksaku membagi satu bebanku
Dan aku akhirnya menimpali, “Beginilah rasanya berjuang sendiri”

Trrssttt..... kusobek halaman itu dari jilid spiralnya. Kulipat rapi dan kumasukkan ke amplop kecil berwarna jingga. Lalu tulisan keritingku mulai tertanam di satu sisi,

                Teruntuk lelaki, yang seminggu lagi kunikahi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar